Kuda dan Anak Manusia (The Horse and His Boy) adalah novel karya C. S. Lewis. Novel ini dipublikasikan pertama kali pada tahun 1954 dan menjadi buku kelima dari tujuh seri kisah "The Chronicles of Narnia".
Meskipun buku ini adalah buku kelima yang diterbitkan, namun jika
diurutkan berdasar kronologi cerita, buku ini menjadi buku yang ketiga
setelah "Sang Singa, sang Penyihir, dan Lemari".
Buku ini adalah satu-satunya dari ketujuh buku Narnia yang tokoh
utamanya bukanlah anak-anak dari dunia kita. Kisah dalam cerita ini
mengisahkan seorang anak yang diasuh oleh orang Calormen yang berniat pergi ke Narnia dan Archenland bersama seekor Kuda yang Bisa Berbicara dari Narnia, Bree.
Ringkasan Cerita
Sastha adalah seorang anak yang tinggal di daerah pantai Calormen.
Ia diasuh oleh seorang yang kasar dan haus uang bernama Arsheesh.
Sastha selalu mengimpikan untuk perjalanan ke daerah utara yang tidak
pernah ia ketahui wujudnya. Pada suatu hari, seorang panglima Calormen
bersama kuda perangnya berniat membeli Sastha. Arsheesh mengajak
panglima itu menginap di gubuknya sambil menawar harga, dan Sastha
terpaksa menginap di istal. Di Istal, Sastha terkejut ketika kuda perang
sang panglima bisa berbicara. Kuda itu bernama Bree, Kuda yang Bisa Berbicara yang diculik dari Narnia
dan menjadi budak Calormen. Kuda itu mengajak Sastha untuk berpergian
bersama ke Utara, Bree memberikan motivasi tambahan untuk Sastha: Sastha
berkulit putih, berbeda dengan kulit Calormen kebanyakan, artinya
Sastha berasal dari negeri Utara.
Sastha dan Bree akhirnya mengadakan
perjalanan dengan Sastha mendapat tutor mengendarai kuda secara bebas
oleh Bree. Mereka kadang mencuri untuk menyanggupi kebutuhan makan. Saat
menyeberangi sungai di hutan kala malam, mereka merasa diikuti seekor
kuda dan penunggangnya, bersamaan dengan itu, mereka dikejar singa.
Singa itu mengejar mereka hingga kuda penguntit itu kini bersama dengan
Bree dan Sastha. Akhirnya, mereka lolos dari kejaran dan mereka berdua,
berkenalan dengan Aravis Tarkheena dan Kuda yang Bisa Berbicara, Hwin.
Aravis yang merupakan putri bangsawan Calormen, mengatakan bahwa ia
kabur bersama Hwin karena ia dipaksa menikah oleh ayahnya dengan Ahostha Tarkaan, penasihat Tisroc
yang bengis dan kaya, saat ia ingin bunuh diri, Hwin mencegahnya dan
memberikan solusi agar pergi ke Narnia. Kemudian, mereka berempat
mendiskusikan bagaimana cara melewati rintangan tersulit, yaitu sungai
besar yang ditengahi ibukota Imperium Calormen, Tashbaan. Apabila mereka berhasil melewati rintangan itu, mereka hanya harus melewati padang pasir dan pegunungan Archenland
dan sampai ke Narnia. Mereka memutuskan menyamar sebagai pedagang dan
menyeberangi Tashbaan. Sesampai di Tashbaan, mereka bertemu dengan
rombongan Ratu Susan dan Raja Edmund
dari Narnia. Saat itulah, Sastha dikira Corin, pangeran Archenland. Ia
diseret ke rumah singgah rombongan Narnia. Disanalah, Sastha
mendengarkan bagaimana Ratu Susan ingin menghindari pinangan anak
Tisroc. Mr. Tumnus
sang faun menyarankan pengelabuan pesta kapal agar tidak ada yang
curiga. Kemudian, malam harinya, kapal akan diam-diam pergi dari
Calormen. Sastha, diberikan jamuan enak dan malam harinya ia bertukar
tempat dengan pangeran Corin yang asli, yang merupakan anak yang
pemberani namun nakal. Setelah bertukar tempat, Sastha sukses keluar
dari Tashbaan dan pergi ke Makam Raja-Raja Lampau di Utara Tashbaan yang
dianggap angker, tempat reuni rombongan pelarian apabila mereka
terpisah.
Nasib Aravis, Bree, dan Hwin lebih baik. Aravis bertemu teman baiknya, Lasaraleen
yang sangat feminim dan kaya. Lasaraleen membantu Aravis dan kedua kuda
agar bisa sampai ke makam secepatnya. Saat mengendap keluar lewat
istana Tisroc, mereka mencuridengar pembicaraan Ahostha, Tisroc, dan
anak Tisroc, Rabadash. Rabadash meminta izin pada Tisroc agar melakukan
penyerangan tiba-tiba ke Narnia sementara Raja Agung Peter
sedang memerangi raksasa di Utara. Akhirnya, mereka berempat kembali
bersama dengan Sastha mengetahui berita penyerangan. Mereka berempat
menyusuri pasir dan tebing hingga sampai ke seberang Sungai Winding
Arrow yang berada jauh dari padang pasir. Namun perjalanan tidak lagi
sama kala mereka di bukit Archenland, mereka melihat pasukan Calormen.
Lalu mereka dikejar oleh seekor singa lagi hingga akibatnya Aravis
cedera dan mereka bisa istirahat di rumah Pertapa Perbatasan Selatan.
Pertapa itu memercayakan Sastha untuk memberitahu soal penyerangan
Calormen kepada Raja Lune, raja Archenland sekarang. Sastha berlari ke
Anvard dan bertemu Raja. Akhirnya, Raja berterimakasih kepada Sastha dan
menyiapkan perlindungan. Sementara itu, Sastha juga diemban tugas untuk
menyampaikan penyerangan ke Narnia untuk membantu Archenland. Saat
perjalanan, Sastha bertemu Aslan
yang ternyata adalah singa yang selalu mengejar mereka agar perjalanan
mereka bisa tepat pada waktunya. Sastha pergi ke Narnia dan menyampaikan
ke seluruh rakyatnya. Istana Cair Paravel yang berisi Raja Edmund, Ratu Susan, dan Ratu Lucy
segera mengadakan persiapan pula bersama Hewan-Hewan yang Bisa
Berbicara. Dengan pertempuran itu, akhirnya pasukan Calormen bisa
dikalahkan dengan sang pemimpin penyerangan, Rabadash, menjadi tawanan.
Sastha lalu dihubungkan dengan kemiripan wajahnya dengan Corin, bahwa
Sastha adalah kakak kembar Corin yang terpisah sejak lahir. Sastha yang
sebenarnya bernama Cor, pergi ke Pertapa dan menjemput Aravis, Bree,
dan Hwin ke Archenland. Disana, terjadi perundingan untuk penghakiman
Rabadash. Saat itu, Aslan datang dan mengubah Rabadash menjadi seekor
keledai. Aslan berkata, Rabadash bisa menjadi dirinya lagi apabila ia
berada di Kuil Tash, ia akan menjadi manusia lagi. Dan ia bisa menjadi
keledai lagi apabila ia berada lebih dari 10 mil dari Tashbaan. Maka,
Cor menjadi pewaris takhta Raja Lune dan Aravis yang bebas dari
kehidupan aristokrat Calormen, menikahi Cor. Kehidupan di Archenland
menjadi damai kembali.



















0 komentar:
Posting Komentar